Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab hiduplah seorang janda miskin bersama seorang anak gadisnya di sebuah gubuk tua di pinggiran kota Mekah. Keduanya sangat rajin beribadah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Setiap pagi, selesai salat subuh, keduanya memerah susu kambing di kandang. Penduduk kota Mekah banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik.
Pada suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. Setelah beberapa saat berkeliling, sampailah khalifah di pinggiran kota Mekah. Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil dengan cahaya yang masih tampak dari dalamnya yang menandakan bahwa penghuninya belum tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu mendekati gubuk itu. Samar-samar telinganya mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.
"Anakku, malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi," keluh wanita itu kepada anaknya.
Dengan tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, "Ibu, tidak usah disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi."
"Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?"
"Jangan, Bu!" gadis itu melarang. "Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati."
Dari luar gubuk itu, Khalifah Umar semakin penasaran ingin terus mendengar kelanjutan percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.
"Bagaimana mungkin khalifah Umar tahu!" kata janda itu kepada anaknya. "Saat ini beliau sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita ini?"
Melihat ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu tersenyum dengan lembut dan berkata, "Ibu, memang Khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang. Tapi Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah."
Dari luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau benar-benar kagum dengan kejujurannya. Ternyata kemiskinan dan himpitan keadaan tidak membuatnya terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu khalifah mengajak pengawalnya pulang.
Keesokan harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Beliau ternyata bermaksud menikahkan putranya dengan gadis jujur itu.
Sungguh sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada Allah adalah suatu harta yang tak ternilai harganya. Mungkin ini yang sulit kita dapatkan sekarang.
Selasa, 23 Juni 2009
Si Guanteng
Namanya Muhammad Abdullah. Islami sekali kan? Tapi kelakuannya, masya Allah...pusing tujuh kelilling mikirin dan ngurusin adekku yang bontot ini. Si Ganteng adalah julukan keluargaku karena ia satu-satunya anak lelaki yang dimiliki oleh orangtuaku.
Dibanding aku, ia mempunyai kelebihan-kelebihan yang membuat ia terkenal di sekolahnya. Tampang plus tongkrongannya, ditunjang uang jajan dari ibu yang tebel, otak encer, jago maenin gitar, modal cukuplah untuk menggaet gadis-gadis di SMA nya. Tapi aku sebagai kakak perempuannya tidak rela ia berkecimpung dalam aktivitas yang jauh dari ridho Allah. Ngeband.
“Teh …Adul itu bukan anak kecil lagi. Adul udah SMA bisa memilih jalan yang bener. Walopun Adul suka ngeband, Adul juga suka shalat, puasa juga gak ngeboat kok. Percaya ama Adul doong!”
“Dul tapi yang namanya ngeband, kalo konser itu kan terjadi campur baur cewek cowok. Belon lagi yang namanya pesta narkoba, minum, dan kegiatan maksiat laennya.”
“Itu sih pilihan mereka. Adul gak nyuruh begitu kok. Mereka aja yang salah. Kan yang penting Adul enggak. “
“Tapi kan Adul kena dosa juga..”
“Dosa? Itu sih urusan entar!”“Itu salah Dul! Dul ngeliat segala sesuatunya dari segi manfaat bukan dari Islam! Islam gak hanya ngatur masalah shalat aja tapi juga dari masalah ide..”
“stop ah Teh! Teteh jangan ganggu Adul lagi! Ini prinsip Adul. Inget. P-R-I-N-S-I-P! Semua orang nggak bisa ngatur Adul! Titik!” Dengan nada marah, ia meninggalkanku yang duduk termangu di sofa ruang tamu.
Setahun yang lalu ketika ia memasuki jenjang SMA, aku menitipkan ia pada teman SMP-ku yang rohis. Namanya Teguh. Tapi...,sepertinya ia pun mengalami kesulitan ketika hendak mengajak Adul mengkaji Islam. Karena prinsipnya itu. Memang Adul keras kepala.
Sejak kejadian sore itu, ia semakin tertutup. Padahal aku sayang sekali padanya.
Berhubung aku kuliah di IPB, aku tidak lagi bisa memperhatikan Si Ganteng. Walaupun jarak Sukabumi-Bogor tidak terlalu jauh tapi karena kesibukanku, aku jarang pulang dan hubunganku dengan Si Ganteng sedikit renggang. Jarak itu semakin jauh kurasakan. Aku tenggelam dalam kegiatan-kegiatan keislamanku sementara Si Gantengku tetap setia dengan gitarnya.
Walau tak berkomunikasi langsung, aku mendengar cerita dari ibu bahwa Adul semakin sukses dalam aktifitasnya. Bahkan ibu terlihat bangga karena Adul tak pernah pulang dengan tangan kosong bila ikut perlombaan band. Panggilan-panggilan ngeband di café-café juga berdatangan. Reaksi bapak, NO COMMENT! Yang penting….nggak ninggalin shalat! Begitu juga dengan tanggapan dua tetehku, Teh Nia dan Teh Sari. Mereka cuek. Malah dengan santainya Teh Nia bilang,” Biarin aja Mit..Kamu jangan ekstrim gitu dong. Dul berbakat dan harus disalurkan. Lagian dia nggak minta uang dari kamu ini “
“Tapi Teh…, kalo untuk dia sendiri sih nggak masalah, tapi untuk konser atau lomba ngeband atau apa kek itu kan memfasilitasi untuk hal-hal buruk, melenakan kita untuk beribadah kepada Allah. “
“Mita…biarin aja entar dia terkekang lho!” timpal Teh Sari.
“Lagian Mit..Ibu juga seneng kok anak Ibu ada suka nyanyi dan jago ngegitar, kali aja kalo gitu ada prosedur, eh, produser rekaman kaset yang tertarik ama dia, terus ditawarin bikin album. Kan nggak usah ikut acara-acara model AFI, Indonesian Idol, atau Popstar, dia bisa jadi artis. Kan kita juga yang seneng Mit…Ibu punya anak yang masuk tivi, pasti tetangga-tetangga yang laen iri.”
“Ah Ibu sama aja kayak Teh Nia dan Teh Sari, melihat sesuatu dari aspek manfaat aja. Apa iya dengan terkenal bahagia? Nggak kok! Manusia akan bahagia kalo diridhoi Allah. Bukan popularitas!”
“Ya..kalo mau seneng di dunia jangan bawa-bawa nama agama Mit..kita kan belon bener kayak kamu. Entar juga kalo Adul bosen, dia berenti sendiri,” jawab Teh sari. bukannya memberi solusi, malah menambah runyam masalah.
Aku hanya diam. Sekuler banget. Memisahkan agama dari kehidupan. Daripada amarahku naik, karena masalah Si Ganteng, aku pergi ke kamar ninggalin mereka. Ya Allah…kuatkanlah aku….
****
Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa libur semester telah menyapa. Hm…liburan euy! Back to home, perbaikan gizi, birrul walidain, dan yang pasti berda’wah ke keluarga. Dengan bermodal semangat empat puluh lima, aku berangkat menuju Sukabumi.
Alhamdulillah sudah sampai rumah. Kok sepi yah? Salamku bahkan tak ada yang menjawab. Kemana orang-orang? Kok sepi banget mirip di kuburan..? Hiyyy.
Pintu rumah tak dikunci. Ternyata ada ibu di belakang rumah. Raut mukanya sedih. What’s wrong? Ada apa? Kunaon?
“Assalamu’alaikum Bu…kunaon Bu? Kok di rumah sepi?” tanyaku seraya meraih tangannya lalu menciumnya dengan ta’zim.
Ibu menjawab salamku, lalu terdiam kembali.
“Dul..Mit….” ujar beliau seraya terpatah-patah.
“Kunaoan Si Ganteng? Si Kasep? “ tanyaku was-was. Teringat berita–berita di tabloid tentang maraknya aksi bunuh diri remaja. Tapi masa Si Gantengku nekad begitu? Masa Si Keras Kepala itu menjadi orang yang cengeng? Norak banget!
“Dul ngunci diri di kamarnya. Udah dua hari Mit. “
“Mo bertelor kali Bu…eh becanda maksudnya. Ibu tau kenapa?”
“Nggak…Dul nggak mau ngomong ama siapa-siapa. Coba kamu ajak ngomong. Siapa tau dia mau ngomong.” Jawab Ibu seperti menaruh harapan yang besar padaku.
“Iya deh Bu..”
“Eh istirahat dulu Mit..”
“Sekarang aja deh Bu..masalah ummat, eh, Si Ganteng lebih penting daripada masalah Mita. Do’akan anakmu dalam berjuang ..,” ucapku layaknya syahidah yang akan jihad. Ciee..
Dengan perlahan ku hampiri kamar Adul. Ku ketuk pintu kamar. Tak ada reaksi. Makin takut aku. Ku ketuk lagi, tapi kali ini ku sebut namanya.
Kusebut basmallah. Ku coba mengetuknya lagi.
“Dul…buka dooong! Masih idup kan? Duuuul ini Mita. Ayo kalo punya masalah cerita. Jangan siksa diri kamu sendiri. Laperkan dua hari nggak makan? Mo makan? Eh Duuul….. Bukaaaa…..!” ujarku dengan suara high level.
****
“Dul, kamu kenapa?” tanyaku memulai pembicaraan.
Adul masih diam. Ia tertunduk lesu. Ku hampiri ia, ku belai rambutnya.
“Ayo cerita..pasti…masalahnya ama…gitar..kenapa? bosen? Kan sayang gitarnya dipatahin. Mahal lho!”
Adul tetap diam. Tapi ku lihat ada genangan air mata di pelupuk matanya. Si Gantengku menangis? Wah harus direkam nih. Adul kan nangisnya setahun sekali. Kalau lebaran. Bukan nangis karena dosa tapi karena pengen jatah baju lebaran ditambah.
“Dul kenapa?”
Dul langsung memelukku. Biasanya ia paling sebel kalo dipeluk. Malu udah gede katanya.
“Ayo cerita Dul! ..” desakku.
Adul melepaskan pelukkannya. Lalu setelah ia mengusap airmatanya. Ia memulai bercerita.
“Gini Teh…temen deket Adul ada yang …me…meninggal..”
“Innalilahi wa innailaihi roji’un. Siapa Dul?”
“Taufik. Opik teh…”
“Ya Allah…” ujarku spontan. Aku kenal Opik. Cs berat Adul. Satu band musik pula. Pantas ia begitu tertekan.
“Kenapa Dul? Sakit? Kecelakaan atau…?” berondong pertanyaan ku lemparkan padanya.
“O..O…..OD” jawabnya terpatah-patah.
“Astaghfirullah..dia ngobat..? Dul…Dul..kamu ..kamu …gak kan? Ayo jawab!” tanyaku seraya mengguncang-guncang bahunya.
Ia mengangguk.
“Dul udah ngasih tau dia. Tapi dia masih tetep ama pil-pil laknat itu. Bahkan dia ngajak Adul untuk make. Tapi Adul inget Allah, ibu, bapak, teteh-teteh terutama Teh Mita. Adul nolak ajakannya. Ia marah Teh. Nggak solider, katanya. Ia pake itu untuk nambah semangat kalo manggung katanya Teh. Terus puncaknya ….”
“Kapan Dul?” tanyaku setengah memaksa.
“Dua hari lalu. Ketika tampil di acara lomba festival band. Opik yang lagi ngedrum tiba-tiba jatuh dari duduknya. Kita semua kaget. Apalagi panitia. Ketika dibawa ke Rumah Sakit Syamsudin, di jalan dia kejang-kejang, terus dari mulutnya keluar buih putih. Banyak banget,Teh. Sampe di UGD, Opik…Opik… nggak ketolong lagi,” ucapnya setengah histeris. Ku usap punggungnya. Kejadian ini pasti terasa berat.
“Opik..Opik..meninggal …kejadiannya di depan mata Adul. Dokter bilang sebelom tampil ia pake Lexotan dulu dalam dosis yang sangat banyak. Adul tau Teh, pasti Opik kambuh lagi demam panggungnya. Dia kan grogian. Soalnya event ini keren banget. Perlombaan band paling bergengsi di kota ini. Pasti dia mati-matian untuk tampil sukses. Tapi…berakhir begini…”
Aku menarik nafas panjang.
“Teh …maafin Adul..”
“Kok ke Teteh? ..” tanyaku heran.
“Teteh udah ingetin Adul untuk nggak ngeband. Tapi Adul bandel. Karena Adul bodoh, egois…jadinya gini deh. Setelah kejadian itu Adul jadi benci sama diri Adul sendiri. Nggak berguna. Hanya karena ngeband, semuanya hancur. Makanya gitar hadiah ulang tahun dari bapak, Adul patahin. Percuma Teh …..” ujarnya dengan kepala tertunduk lesu.
****
Gedung Graha Widya Wisuda IPB ramai oleh pengunjung. Aku yang ikut dalam kegiatan rohis kampus ikut memeriahkan penyambutan angkatan baru ini. Teriknya mentari jam dua belas siang menyengat kulitku. Untung aku punya pelindung yaitu khimar dan jilbab yang menutupi tubuhku. Coba kalau tidak. Sudah dapat dosa dari Allah, kena pancaran sinar ultraviolet yang dapat membuat kulitku terkena kanker kulit lagi. Masya Allah.
Mana yah orang yang aku cari itu? Setelah aku mencari-cari, aku melihat seseorang memasuki stand rohis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di bagian ikhwannya. Senyumku mengembang. Orang yang aku cari yaitu tak lain dan tak bukan Si Gantengku, Adul. Ia ada di sana.
Alhamdulillah, setelah kejadian meninggalnya Opik, Adul berubah seratus delapan puluh derajat. Ibadahnya ditingkatkan lagi. Band langsung ditinggalkan walaupun sempat kena sidang oleh Teh Sari, Teh Nia dan ibu. Kalau bapak, tidak ikut-ikutan. Dan seperti biasanya, NO COMENT. Ujarnya, Si Gantengku sudah dewasa. Dia berhak memilih jalannya sendiri.
Dan saat memasuki kelas tiga, ia mempunyai visi dan misi yang berubah. Ingin kuliah untuk mencari ilmu yang bermanfaat dan untuk lebih mengenal Islam, ia pun banting stir dari cita-citanya yang semula dari ingin memperdalam seni bandnya menjadi pemelihara kebudayaan laut di IPB. Subhanallah. Dipilihnya IPB supaya ia dekat denganku walaupun kami berbeda fakultas. Aku di Fakultas Pertanian. Tapi kembali lagi pada niatnya, ia ingin berubah dan Alhamdulillah niatnya terkabul. Ia lolos Ujian Saringan Masuk IPB sehingga tidak perlu mengikuti SPMB lagi.
“Daaar..Assalamu’alaikum Teh Mita…”Seseorang mengagetkanku dari lamunan. Dan ia pun menyodorkan sebelah tangannya.
“Wa’alaikumussalam. Adul..kamu ini ngagetin aja. Gimana, udah registrasi? “ tanyaku seraya menyodorkan tanganku dan ia menciumnya dengan ta’zim.
“Teteh mah ngelamun melulu. Tadi Adul udah bilang ke stand informasi, tapi Tetehnya nggak ada. Eh, taunya ada di depan stand Lembaga Studi Islam Faperta. Registrasi Adul nanti setelah istirahat. Eh tau nggak Teh, pas Adul keluar dari GWW, Adul kan pusing liat banyak orang eh taunya ada seseorang yang manggil Adul..”
“Siapa? Akhwat? Jangan-jangan…awas nih cari masalah lagi di sini…”
“Ikhwan kok Teh..lagian Adul kan udah sumpah nggak bakalan pacaran lagi. Dosa Teh. Eh…tadi kan ada..Kang…Teguh. Terus udah di stand, kita ngobrol-ngobrol. Teteh nggak cerita kalo Kang Teguh satu fakultas denganku.” Adul sedikit marah.
Aku terdiam. Ya…aku lupa! Mungkin ada baiknya kalau aku hubungi dia lagi untuk membimbing adikku. Tapi…malu ah!
“Dah jangan dipikirin. Eh Teh…ada tawaran menarik nih…” serunya tiba-tiba.
“Apaan? Tawaran kerja? Boleh dong mumpung libur nih..”
“Bukan! Tawarannya, mau nggak Teteh aku comblangin ama Kang Teguh? Dia manis kok. Ikhwan pula. Ok kan?’ ujarnya jenaka.
Aku melotot. Sopyaaaan, eh, sopan banget nih anak! Ku cubit badannya. Ia malah tertawa!
“Sorry Teh,sorry…Tapi..,mau kaaaaan?” ia pun berlari menghindari kejaran cubitan mautku.
Adul, Adul. Katanya mau berubah. Kok ’jayusnya’ masih dipelihara. Tapi dalam sudut hatiku yang paling dalam aku bersyukur kepada Allah, karena adikku telah berubah. Ia bukan hanya Si Ganteng saja tapi bertambah satu predikat lagi yaitu….Si Ikhwan! r
Dibanding aku, ia mempunyai kelebihan-kelebihan yang membuat ia terkenal di sekolahnya. Tampang plus tongkrongannya, ditunjang uang jajan dari ibu yang tebel, otak encer, jago maenin gitar, modal cukuplah untuk menggaet gadis-gadis di SMA nya. Tapi aku sebagai kakak perempuannya tidak rela ia berkecimpung dalam aktivitas yang jauh dari ridho Allah. Ngeband.
“Teh …Adul itu bukan anak kecil lagi. Adul udah SMA bisa memilih jalan yang bener. Walopun Adul suka ngeband, Adul juga suka shalat, puasa juga gak ngeboat kok. Percaya ama Adul doong!”
“Dul tapi yang namanya ngeband, kalo konser itu kan terjadi campur baur cewek cowok. Belon lagi yang namanya pesta narkoba, minum, dan kegiatan maksiat laennya.”
“Itu sih pilihan mereka. Adul gak nyuruh begitu kok. Mereka aja yang salah. Kan yang penting Adul enggak. “
“Tapi kan Adul kena dosa juga..”
“Dosa? Itu sih urusan entar!”“Itu salah Dul! Dul ngeliat segala sesuatunya dari segi manfaat bukan dari Islam! Islam gak hanya ngatur masalah shalat aja tapi juga dari masalah ide..”
“stop ah Teh! Teteh jangan ganggu Adul lagi! Ini prinsip Adul. Inget. P-R-I-N-S-I-P! Semua orang nggak bisa ngatur Adul! Titik!” Dengan nada marah, ia meninggalkanku yang duduk termangu di sofa ruang tamu.
Setahun yang lalu ketika ia memasuki jenjang SMA, aku menitipkan ia pada teman SMP-ku yang rohis. Namanya Teguh. Tapi...,sepertinya ia pun mengalami kesulitan ketika hendak mengajak Adul mengkaji Islam. Karena prinsipnya itu. Memang Adul keras kepala.
Sejak kejadian sore itu, ia semakin tertutup. Padahal aku sayang sekali padanya.
Berhubung aku kuliah di IPB, aku tidak lagi bisa memperhatikan Si Ganteng. Walaupun jarak Sukabumi-Bogor tidak terlalu jauh tapi karena kesibukanku, aku jarang pulang dan hubunganku dengan Si Ganteng sedikit renggang. Jarak itu semakin jauh kurasakan. Aku tenggelam dalam kegiatan-kegiatan keislamanku sementara Si Gantengku tetap setia dengan gitarnya.
Walau tak berkomunikasi langsung, aku mendengar cerita dari ibu bahwa Adul semakin sukses dalam aktifitasnya. Bahkan ibu terlihat bangga karena Adul tak pernah pulang dengan tangan kosong bila ikut perlombaan band. Panggilan-panggilan ngeband di café-café juga berdatangan. Reaksi bapak, NO COMMENT! Yang penting….nggak ninggalin shalat! Begitu juga dengan tanggapan dua tetehku, Teh Nia dan Teh Sari. Mereka cuek. Malah dengan santainya Teh Nia bilang,” Biarin aja Mit..Kamu jangan ekstrim gitu dong. Dul berbakat dan harus disalurkan. Lagian dia nggak minta uang dari kamu ini “
“Tapi Teh…, kalo untuk dia sendiri sih nggak masalah, tapi untuk konser atau lomba ngeband atau apa kek itu kan memfasilitasi untuk hal-hal buruk, melenakan kita untuk beribadah kepada Allah. “
“Mita…biarin aja entar dia terkekang lho!” timpal Teh Sari.
“Lagian Mit..Ibu juga seneng kok anak Ibu ada suka nyanyi dan jago ngegitar, kali aja kalo gitu ada prosedur, eh, produser rekaman kaset yang tertarik ama dia, terus ditawarin bikin album. Kan nggak usah ikut acara-acara model AFI, Indonesian Idol, atau Popstar, dia bisa jadi artis. Kan kita juga yang seneng Mit…Ibu punya anak yang masuk tivi, pasti tetangga-tetangga yang laen iri.”
“Ah Ibu sama aja kayak Teh Nia dan Teh Sari, melihat sesuatu dari aspek manfaat aja. Apa iya dengan terkenal bahagia? Nggak kok! Manusia akan bahagia kalo diridhoi Allah. Bukan popularitas!”
“Ya..kalo mau seneng di dunia jangan bawa-bawa nama agama Mit..kita kan belon bener kayak kamu. Entar juga kalo Adul bosen, dia berenti sendiri,” jawab Teh sari. bukannya memberi solusi, malah menambah runyam masalah.
Aku hanya diam. Sekuler banget. Memisahkan agama dari kehidupan. Daripada amarahku naik, karena masalah Si Ganteng, aku pergi ke kamar ninggalin mereka. Ya Allah…kuatkanlah aku….
****
Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa libur semester telah menyapa. Hm…liburan euy! Back to home, perbaikan gizi, birrul walidain, dan yang pasti berda’wah ke keluarga. Dengan bermodal semangat empat puluh lima, aku berangkat menuju Sukabumi.
Alhamdulillah sudah sampai rumah. Kok sepi yah? Salamku bahkan tak ada yang menjawab. Kemana orang-orang? Kok sepi banget mirip di kuburan..? Hiyyy.
Pintu rumah tak dikunci. Ternyata ada ibu di belakang rumah. Raut mukanya sedih. What’s wrong? Ada apa? Kunaon?
“Assalamu’alaikum Bu…kunaon Bu? Kok di rumah sepi?” tanyaku seraya meraih tangannya lalu menciumnya dengan ta’zim.
Ibu menjawab salamku, lalu terdiam kembali.
“Dul..Mit….” ujar beliau seraya terpatah-patah.
“Kunaoan Si Ganteng? Si Kasep? “ tanyaku was-was. Teringat berita–berita di tabloid tentang maraknya aksi bunuh diri remaja. Tapi masa Si Gantengku nekad begitu? Masa Si Keras Kepala itu menjadi orang yang cengeng? Norak banget!
“Dul ngunci diri di kamarnya. Udah dua hari Mit. “
“Mo bertelor kali Bu…eh becanda maksudnya. Ibu tau kenapa?”
“Nggak…Dul nggak mau ngomong ama siapa-siapa. Coba kamu ajak ngomong. Siapa tau dia mau ngomong.” Jawab Ibu seperti menaruh harapan yang besar padaku.
“Iya deh Bu..”
“Eh istirahat dulu Mit..”
“Sekarang aja deh Bu..masalah ummat, eh, Si Ganteng lebih penting daripada masalah Mita. Do’akan anakmu dalam berjuang ..,” ucapku layaknya syahidah yang akan jihad. Ciee..
Dengan perlahan ku hampiri kamar Adul. Ku ketuk pintu kamar. Tak ada reaksi. Makin takut aku. Ku ketuk lagi, tapi kali ini ku sebut namanya.
Kusebut basmallah. Ku coba mengetuknya lagi.
“Dul…buka dooong! Masih idup kan? Duuuul ini Mita. Ayo kalo punya masalah cerita. Jangan siksa diri kamu sendiri. Laperkan dua hari nggak makan? Mo makan? Eh Duuul….. Bukaaaa…..!” ujarku dengan suara high level.
****
“Dul, kamu kenapa?” tanyaku memulai pembicaraan.
Adul masih diam. Ia tertunduk lesu. Ku hampiri ia, ku belai rambutnya.
“Ayo cerita..pasti…masalahnya ama…gitar..kenapa? bosen? Kan sayang gitarnya dipatahin. Mahal lho!”
Adul tetap diam. Tapi ku lihat ada genangan air mata di pelupuk matanya. Si Gantengku menangis? Wah harus direkam nih. Adul kan nangisnya setahun sekali. Kalau lebaran. Bukan nangis karena dosa tapi karena pengen jatah baju lebaran ditambah.
“Dul kenapa?”
Dul langsung memelukku. Biasanya ia paling sebel kalo dipeluk. Malu udah gede katanya.
“Ayo cerita Dul! ..” desakku.
Adul melepaskan pelukkannya. Lalu setelah ia mengusap airmatanya. Ia memulai bercerita.
“Gini Teh…temen deket Adul ada yang …me…meninggal..”
“Innalilahi wa innailaihi roji’un. Siapa Dul?”
“Taufik. Opik teh…”
“Ya Allah…” ujarku spontan. Aku kenal Opik. Cs berat Adul. Satu band musik pula. Pantas ia begitu tertekan.
“Kenapa Dul? Sakit? Kecelakaan atau…?” berondong pertanyaan ku lemparkan padanya.
“O..O…..OD” jawabnya terpatah-patah.
“Astaghfirullah..dia ngobat..? Dul…Dul..kamu ..kamu …gak kan? Ayo jawab!” tanyaku seraya mengguncang-guncang bahunya.
Ia mengangguk.
“Dul udah ngasih tau dia. Tapi dia masih tetep ama pil-pil laknat itu. Bahkan dia ngajak Adul untuk make. Tapi Adul inget Allah, ibu, bapak, teteh-teteh terutama Teh Mita. Adul nolak ajakannya. Ia marah Teh. Nggak solider, katanya. Ia pake itu untuk nambah semangat kalo manggung katanya Teh. Terus puncaknya ….”
“Kapan Dul?” tanyaku setengah memaksa.
“Dua hari lalu. Ketika tampil di acara lomba festival band. Opik yang lagi ngedrum tiba-tiba jatuh dari duduknya. Kita semua kaget. Apalagi panitia. Ketika dibawa ke Rumah Sakit Syamsudin, di jalan dia kejang-kejang, terus dari mulutnya keluar buih putih. Banyak banget,Teh. Sampe di UGD, Opik…Opik… nggak ketolong lagi,” ucapnya setengah histeris. Ku usap punggungnya. Kejadian ini pasti terasa berat.
“Opik..Opik..meninggal …kejadiannya di depan mata Adul. Dokter bilang sebelom tampil ia pake Lexotan dulu dalam dosis yang sangat banyak. Adul tau Teh, pasti Opik kambuh lagi demam panggungnya. Dia kan grogian. Soalnya event ini keren banget. Perlombaan band paling bergengsi di kota ini. Pasti dia mati-matian untuk tampil sukses. Tapi…berakhir begini…”
Aku menarik nafas panjang.
“Teh …maafin Adul..”
“Kok ke Teteh? ..” tanyaku heran.
“Teteh udah ingetin Adul untuk nggak ngeband. Tapi Adul bandel. Karena Adul bodoh, egois…jadinya gini deh. Setelah kejadian itu Adul jadi benci sama diri Adul sendiri. Nggak berguna. Hanya karena ngeband, semuanya hancur. Makanya gitar hadiah ulang tahun dari bapak, Adul patahin. Percuma Teh …..” ujarnya dengan kepala tertunduk lesu.
****
Gedung Graha Widya Wisuda IPB ramai oleh pengunjung. Aku yang ikut dalam kegiatan rohis kampus ikut memeriahkan penyambutan angkatan baru ini. Teriknya mentari jam dua belas siang menyengat kulitku. Untung aku punya pelindung yaitu khimar dan jilbab yang menutupi tubuhku. Coba kalau tidak. Sudah dapat dosa dari Allah, kena pancaran sinar ultraviolet yang dapat membuat kulitku terkena kanker kulit lagi. Masya Allah.
Mana yah orang yang aku cari itu? Setelah aku mencari-cari, aku melihat seseorang memasuki stand rohis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di bagian ikhwannya. Senyumku mengembang. Orang yang aku cari yaitu tak lain dan tak bukan Si Gantengku, Adul. Ia ada di sana.
Alhamdulillah, setelah kejadian meninggalnya Opik, Adul berubah seratus delapan puluh derajat. Ibadahnya ditingkatkan lagi. Band langsung ditinggalkan walaupun sempat kena sidang oleh Teh Sari, Teh Nia dan ibu. Kalau bapak, tidak ikut-ikutan. Dan seperti biasanya, NO COMENT. Ujarnya, Si Gantengku sudah dewasa. Dia berhak memilih jalannya sendiri.
Dan saat memasuki kelas tiga, ia mempunyai visi dan misi yang berubah. Ingin kuliah untuk mencari ilmu yang bermanfaat dan untuk lebih mengenal Islam, ia pun banting stir dari cita-citanya yang semula dari ingin memperdalam seni bandnya menjadi pemelihara kebudayaan laut di IPB. Subhanallah. Dipilihnya IPB supaya ia dekat denganku walaupun kami berbeda fakultas. Aku di Fakultas Pertanian. Tapi kembali lagi pada niatnya, ia ingin berubah dan Alhamdulillah niatnya terkabul. Ia lolos Ujian Saringan Masuk IPB sehingga tidak perlu mengikuti SPMB lagi.
“Daaar..Assalamu’alaikum Teh Mita…”Seseorang mengagetkanku dari lamunan. Dan ia pun menyodorkan sebelah tangannya.
“Wa’alaikumussalam. Adul..kamu ini ngagetin aja. Gimana, udah registrasi? “ tanyaku seraya menyodorkan tanganku dan ia menciumnya dengan ta’zim.
“Teteh mah ngelamun melulu. Tadi Adul udah bilang ke stand informasi, tapi Tetehnya nggak ada. Eh, taunya ada di depan stand Lembaga Studi Islam Faperta. Registrasi Adul nanti setelah istirahat. Eh tau nggak Teh, pas Adul keluar dari GWW, Adul kan pusing liat banyak orang eh taunya ada seseorang yang manggil Adul..”
“Siapa? Akhwat? Jangan-jangan…awas nih cari masalah lagi di sini…”
“Ikhwan kok Teh..lagian Adul kan udah sumpah nggak bakalan pacaran lagi. Dosa Teh. Eh…tadi kan ada..Kang…Teguh. Terus udah di stand, kita ngobrol-ngobrol. Teteh nggak cerita kalo Kang Teguh satu fakultas denganku.” Adul sedikit marah.
Aku terdiam. Ya…aku lupa! Mungkin ada baiknya kalau aku hubungi dia lagi untuk membimbing adikku. Tapi…malu ah!
“Dah jangan dipikirin. Eh Teh…ada tawaran menarik nih…” serunya tiba-tiba.
“Apaan? Tawaran kerja? Boleh dong mumpung libur nih..”
“Bukan! Tawarannya, mau nggak Teteh aku comblangin ama Kang Teguh? Dia manis kok. Ikhwan pula. Ok kan?’ ujarnya jenaka.
Aku melotot. Sopyaaaan, eh, sopan banget nih anak! Ku cubit badannya. Ia malah tertawa!
“Sorry Teh,sorry…Tapi..,mau kaaaaan?” ia pun berlari menghindari kejaran cubitan mautku.
Adul, Adul. Katanya mau berubah. Kok ’jayusnya’ masih dipelihara. Tapi dalam sudut hatiku yang paling dalam aku bersyukur kepada Allah, karena adikku telah berubah. Ia bukan hanya Si Ganteng saja tapi bertambah satu predikat lagi yaitu….Si Ikhwan! r
Selasa, 16 Juni 2009
Kilasan Cinta
Cinta – sebentuk kata yang tetap saja mengguncangkan dunia, sedari masa Adam-Hawa, Yusuf-Zulaika, Samson-Delilah, Romeo-Juliet, hingga sampai masanya Cinta dan Rangga. Cerita cinta memang penuh romantika hingga tak lekang diperjalanan masa. Ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dengki, memfasihkan lidah orang yang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, merendahkan kehormatan para raja, menampakkan kehebatan para pemberani, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadian menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari didalam jiwa dan kesenangan yang bersemayam di dalam hati.
Ya, cinta … apapun kisahnya, tetap segar dihadapan mata.
Menghindari Cinta ?
Abu Naufal pernah ditanya, “Apakah seseorang bisa menghindar dari cinta ?â€. Dia menjawab, “Bisa, yaitu orang yang hatinya keras dan bodoh, yang tidak memiliki keutaman dan pemahaman, Sekalipun seseorang hanya memiliki sedikit kepandaian, kehalusan penduduk Hijaz dan kepintaran penduduj Iraq, tidak mungkin bisa menghindar dari Cinta ‘.
Cinta, suatu rasa yang tak pernah mungkin didusta, ia akan selalu mengiringi perjalanan setiap manusia. Ia hadir disetiap hembusan nafas, melantunkan nada-nada indah yang senantiasa dinantikan. Bisa saja seseorang mengatakan pada seluruh dunia bahwa ia tak pernah jatuh cinta, namun hatinya tak kan pernah sepi dari rasa rindu, kecemasan ingin berjumpa, ketakutan ditinggalkan, maupun kebahagiaan yang menyeruak tatkala sinyal-sinyal cinta mulai berdenyut didalam dada. Cinta adalah gejolak yang bisa ditampilkan pada segenap dunia ataupun dikubur-dipendam dijurang sukma terdalam, namun ia akan selalu ada - tak kan pernah tiada..
Perjalanan Cinta.
Cintalah yang pertama kali menegarkan hati
Ia datang bersama takdir berjalan beriringan
Jika pemuda berenang di samudera cinta tak bertepi
Datang banyak masalah yang tak tertanggungkan
Siapa yang sanggup memikul cinta dihati
Bencana datang bersama rahasia-rahasianya.
Permulaan cinta indah menawan dihati
Akhirnya kematian laksana permainan
Ia bermula dari pandangan dan canda
Menjalar dihati laksana bara api
Seperti api yang bermula dari percikan
Jika membesar ia akan membakar semua kayu.
Begitulah syair-syair para pecinta ketika menggambarkan cintanya. Suatu kata yang begitu bebas merdeka namun kini semakin terpasung didalam keangkuhan nafsu manusia. Cinta yang mulanya begitu indah, kini hanya digambarkan dengan kisah asmara dua sejoli yang penuh hasrat menggebu menutup pintu-pintu kasih-sayang.
Dengan cinta, semestinya kedamaian yang tercipta, namun manakala syahwat yang berkuasa, hanya derita yang akan tersisa. Kebebasan dalam menikmati cinta akan terpenjara oleh komitmen penuh dusta, berjanji setia selamanya, makan nggak makan asal berdua, dunia milik kita (yang lain numpang-red), sehidup semati, kaulah segalanya, berkorban apapun aku rela. Akhirnya saat pembuktian tiba tatkala tamu bulanan tak kunjung tiba, cemas yang melanda, mual-mual dan menginginkan hal-hal yang tak biasa (ngidam-red), semua bencana berkunjung serta-merta dikarenakan nafsu yang telah membutakan cinta. Mulailah waktunya ikrar dipertanyakan, tanggung jawab dicari, meletusnya bukit-bukit kehinaan.
Cinta, bagaimanapun indahnya, tatkala ia diselimuti dengan nasfu yang merajalela, hanya akan mengantarkan derita.
Kemanakah Cinta Kau Persembahkan ?
Apakah cinta sucimu hanya akan kau persembahkan kepada dunia. Apapun bentuknya, kekasih yang begitu jelita, keluarga yang penuh kehangatan, teman tempat berbagi cerita, harta yang berlimpah, jabatan yang tertinggi, tak ada yang berhak mendapatkan cinta sebelum kau persembahkan ia pada yang haq, Sang Pencipta, penebar cinta diseluruh semesta.
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saaudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaah yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumag tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nyaâ€. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq. (Q.S. at Taubah 24).
Sadarilah bahwa cinta sejati hanyalah milik Allah semata. Disebabkan oleh cinta-Nyal kita hadir didunia, mendapatkan kesempatan istimewa untuk menjadi khalifah-Nya. Oleh karena itu, tak ada alasan bagi kita untuk menduakan cinta-Nya. Ia yang telah menjadikan kita dengan segala kesempurnaan, menjaga kelangsungan hidup kita dengan tak putusnya mencurahkan rahmat dan nikmat yang tiada terkira. Tanpa cinta-Nya tak kan ada belaian kasih seorang ibu pada anaknya, tak kan ada perjuangan seorang ayah untuk buah hatinya, tak kan ada hangatnya sinar sang surya yang meyelimuti dunia, dan tak kan pernah kita jumpai keindahan dan pesona alam semesta yang begitu sempurna. Maha besar Ia dengan segala cinta-Nya.
Marilah kembali menatap segala laku kita, apakah cinta kita telah berada pada tempat yang semestinya. Apakah dalam jiwa kita tersimpan rindu yang membara menanti perjumpaan dengan-Nya, Apakah hati kita memendam harap, gelisah, cemas, dan takut tatkala bercermin diri, melihat segala amalan yang telah dilakukan selama ini. Mengharapkan diterimanya segala ibadah, dan cemas serta takut apabila amal ini tidak diterima oleh-Nya. Apakah cinta kita pada-Nya begitu tulus, sehingga kita akan senantiasa mencintai apa yang Ia cintai dan akan membenci apa yang Ia benci. Apakah kita telah berbakti pada orangtua, karena Allah mencintai seorang anak yang berbakti pada orangtuanya. Apakah kita rela berkorban menegakkan kalimat-Nya di muka bumi, menyerukan yang ma’ruf dan mencegah segala yang munkar, karena Allah mencintai hamba-Nya yang berjuang dijalan-Nya. Bulatkan tekad, tetapkan niat, wujudkan dalam sikap, Allah cinta kami tertinggi.
Islam tidak melarang sesuatu yang berguna bagi manusia, tetapi mengaturnya. Cinta kasih dalam Islam mempunyai bagian-bagian yang berhubungan dengan Sang Pencipta, makhluk-Nya, pribadi-pribadi dan masyarakat. Apabila cinta kasih keluar dari aturan, yang didapatnya bukan cinta kasih tetapi derita. Tidakkah kita melihat bahwa Sang Pencipta memberikan sesuatu yang dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi umat manusia.
‘Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allahâ€. (Q.S. Al Baqarah: 165)
Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya
Apabila kilat cinta t’lah menyambar hati ini
Ketahuilah bahwa ada cinta dalam hati yang lain
Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu
Pastilah Allah menaruh cinta atasmu
Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan
Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu dengan yang lain
Sampai akhir hingga dunia akan terpelihara oleh kesatuan kita (Potongan Puisi Jalaludin Rumi) .
Kirimkan Karya anda ke :redaksi@ukhuwah.or.id
Ya, cinta … apapun kisahnya, tetap segar dihadapan mata.
Menghindari Cinta ?
Abu Naufal pernah ditanya, “Apakah seseorang bisa menghindar dari cinta ?â€. Dia menjawab, “Bisa, yaitu orang yang hatinya keras dan bodoh, yang tidak memiliki keutaman dan pemahaman, Sekalipun seseorang hanya memiliki sedikit kepandaian, kehalusan penduduk Hijaz dan kepintaran penduduj Iraq, tidak mungkin bisa menghindar dari Cinta ‘.
Cinta, suatu rasa yang tak pernah mungkin didusta, ia akan selalu mengiringi perjalanan setiap manusia. Ia hadir disetiap hembusan nafas, melantunkan nada-nada indah yang senantiasa dinantikan. Bisa saja seseorang mengatakan pada seluruh dunia bahwa ia tak pernah jatuh cinta, namun hatinya tak kan pernah sepi dari rasa rindu, kecemasan ingin berjumpa, ketakutan ditinggalkan, maupun kebahagiaan yang menyeruak tatkala sinyal-sinyal cinta mulai berdenyut didalam dada. Cinta adalah gejolak yang bisa ditampilkan pada segenap dunia ataupun dikubur-dipendam dijurang sukma terdalam, namun ia akan selalu ada - tak kan pernah tiada..
Perjalanan Cinta.
Cintalah yang pertama kali menegarkan hati
Ia datang bersama takdir berjalan beriringan
Jika pemuda berenang di samudera cinta tak bertepi
Datang banyak masalah yang tak tertanggungkan
Siapa yang sanggup memikul cinta dihati
Bencana datang bersama rahasia-rahasianya.
Permulaan cinta indah menawan dihati
Akhirnya kematian laksana permainan
Ia bermula dari pandangan dan canda
Menjalar dihati laksana bara api
Seperti api yang bermula dari percikan
Jika membesar ia akan membakar semua kayu.
Begitulah syair-syair para pecinta ketika menggambarkan cintanya. Suatu kata yang begitu bebas merdeka namun kini semakin terpasung didalam keangkuhan nafsu manusia. Cinta yang mulanya begitu indah, kini hanya digambarkan dengan kisah asmara dua sejoli yang penuh hasrat menggebu menutup pintu-pintu kasih-sayang.
Dengan cinta, semestinya kedamaian yang tercipta, namun manakala syahwat yang berkuasa, hanya derita yang akan tersisa. Kebebasan dalam menikmati cinta akan terpenjara oleh komitmen penuh dusta, berjanji setia selamanya, makan nggak makan asal berdua, dunia milik kita (yang lain numpang-red), sehidup semati, kaulah segalanya, berkorban apapun aku rela. Akhirnya saat pembuktian tiba tatkala tamu bulanan tak kunjung tiba, cemas yang melanda, mual-mual dan menginginkan hal-hal yang tak biasa (ngidam-red), semua bencana berkunjung serta-merta dikarenakan nafsu yang telah membutakan cinta. Mulailah waktunya ikrar dipertanyakan, tanggung jawab dicari, meletusnya bukit-bukit kehinaan.
Cinta, bagaimanapun indahnya, tatkala ia diselimuti dengan nasfu yang merajalela, hanya akan mengantarkan derita.
Kemanakah Cinta Kau Persembahkan ?
Apakah cinta sucimu hanya akan kau persembahkan kepada dunia. Apapun bentuknya, kekasih yang begitu jelita, keluarga yang penuh kehangatan, teman tempat berbagi cerita, harta yang berlimpah, jabatan yang tertinggi, tak ada yang berhak mendapatkan cinta sebelum kau persembahkan ia pada yang haq, Sang Pencipta, penebar cinta diseluruh semesta.
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saaudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaah yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumag tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nyaâ€. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq. (Q.S. at Taubah 24).
Sadarilah bahwa cinta sejati hanyalah milik Allah semata. Disebabkan oleh cinta-Nyal kita hadir didunia, mendapatkan kesempatan istimewa untuk menjadi khalifah-Nya. Oleh karena itu, tak ada alasan bagi kita untuk menduakan cinta-Nya. Ia yang telah menjadikan kita dengan segala kesempurnaan, menjaga kelangsungan hidup kita dengan tak putusnya mencurahkan rahmat dan nikmat yang tiada terkira. Tanpa cinta-Nya tak kan ada belaian kasih seorang ibu pada anaknya, tak kan ada perjuangan seorang ayah untuk buah hatinya, tak kan ada hangatnya sinar sang surya yang meyelimuti dunia, dan tak kan pernah kita jumpai keindahan dan pesona alam semesta yang begitu sempurna. Maha besar Ia dengan segala cinta-Nya.
Marilah kembali menatap segala laku kita, apakah cinta kita telah berada pada tempat yang semestinya. Apakah dalam jiwa kita tersimpan rindu yang membara menanti perjumpaan dengan-Nya, Apakah hati kita memendam harap, gelisah, cemas, dan takut tatkala bercermin diri, melihat segala amalan yang telah dilakukan selama ini. Mengharapkan diterimanya segala ibadah, dan cemas serta takut apabila amal ini tidak diterima oleh-Nya. Apakah cinta kita pada-Nya begitu tulus, sehingga kita akan senantiasa mencintai apa yang Ia cintai dan akan membenci apa yang Ia benci. Apakah kita telah berbakti pada orangtua, karena Allah mencintai seorang anak yang berbakti pada orangtuanya. Apakah kita rela berkorban menegakkan kalimat-Nya di muka bumi, menyerukan yang ma’ruf dan mencegah segala yang munkar, karena Allah mencintai hamba-Nya yang berjuang dijalan-Nya. Bulatkan tekad, tetapkan niat, wujudkan dalam sikap, Allah cinta kami tertinggi.
Islam tidak melarang sesuatu yang berguna bagi manusia, tetapi mengaturnya. Cinta kasih dalam Islam mempunyai bagian-bagian yang berhubungan dengan Sang Pencipta, makhluk-Nya, pribadi-pribadi dan masyarakat. Apabila cinta kasih keluar dari aturan, yang didapatnya bukan cinta kasih tetapi derita. Tidakkah kita melihat bahwa Sang Pencipta memberikan sesuatu yang dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi umat manusia.
‘Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allahâ€. (Q.S. Al Baqarah: 165)
Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya
Apabila kilat cinta t’lah menyambar hati ini
Ketahuilah bahwa ada cinta dalam hati yang lain
Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu
Pastilah Allah menaruh cinta atasmu
Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan
Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu dengan yang lain
Sampai akhir hingga dunia akan terpelihara oleh kesatuan kita (Potongan Puisi Jalaludin Rumi) .
Kirimkan Karya anda ke :redaksi@ukhuwah.or.id
Cinta Lelaki Mulia (artikel)
Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu.
Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.”
***
Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau, bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali ra dan Thalhah ra juga terluka parah.
Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
***
Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya? Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya?
Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga muslim.
Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj al-hayaah).
Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai 'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya.
Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk menghadiahkan syafaat bagi umatnya. “Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim).
Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21).
Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah. “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran (3): 31).
Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa' (mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim)
Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.”
***
Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau, bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali ra dan Thalhah ra juga terluka parah.
Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
***
Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya? Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya?
Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga muslim.
Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj al-hayaah).
Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai 'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya.
Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk menghadiahkan syafaat bagi umatnya. “Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim).
Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21).
Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah. “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran (3): 31).
Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa' (mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim)
Langganan:
Postingan (Atom)
