Namanya Muhammad Abdullah. Islami sekali kan? Tapi kelakuannya, masya Allah...pusing tujuh kelilling mikirin dan ngurusin adekku yang bontot ini. Si Ganteng adalah julukan keluargaku karena ia satu-satunya anak lelaki yang dimiliki oleh orangtuaku.
Dibanding aku, ia mempunyai kelebihan-kelebihan yang membuat ia terkenal di sekolahnya. Tampang plus tongkrongannya, ditunjang uang jajan dari ibu yang tebel, otak encer, jago maenin gitar, modal cukuplah untuk menggaet gadis-gadis di SMA nya. Tapi aku sebagai kakak perempuannya tidak rela ia berkecimpung dalam aktivitas yang jauh dari ridho Allah. Ngeband.
“Teh …Adul itu bukan anak kecil lagi. Adul udah SMA bisa memilih jalan yang bener. Walopun Adul suka ngeband, Adul juga suka shalat, puasa juga gak ngeboat kok. Percaya ama Adul doong!”
“Dul tapi yang namanya ngeband, kalo konser itu kan terjadi campur baur cewek cowok. Belon lagi yang namanya pesta narkoba, minum, dan kegiatan maksiat laennya.”
“Itu sih pilihan mereka. Adul gak nyuruh begitu kok. Mereka aja yang salah. Kan yang penting Adul enggak. “
“Tapi kan Adul kena dosa juga..”
“Dosa? Itu sih urusan entar!”“Itu salah Dul! Dul ngeliat segala sesuatunya dari segi manfaat bukan dari Islam! Islam gak hanya ngatur masalah shalat aja tapi juga dari masalah ide..”
“stop ah Teh! Teteh jangan ganggu Adul lagi! Ini prinsip Adul. Inget. P-R-I-N-S-I-P! Semua orang nggak bisa ngatur Adul! Titik!” Dengan nada marah, ia meninggalkanku yang duduk termangu di sofa ruang tamu.
Setahun yang lalu ketika ia memasuki jenjang SMA, aku menitipkan ia pada teman SMP-ku yang rohis. Namanya Teguh. Tapi...,sepertinya ia pun mengalami kesulitan ketika hendak mengajak Adul mengkaji Islam. Karena prinsipnya itu. Memang Adul keras kepala.
Sejak kejadian sore itu, ia semakin tertutup. Padahal aku sayang sekali padanya.
Berhubung aku kuliah di IPB, aku tidak lagi bisa memperhatikan Si Ganteng. Walaupun jarak Sukabumi-Bogor tidak terlalu jauh tapi karena kesibukanku, aku jarang pulang dan hubunganku dengan Si Ganteng sedikit renggang. Jarak itu semakin jauh kurasakan. Aku tenggelam dalam kegiatan-kegiatan keislamanku sementara Si Gantengku tetap setia dengan gitarnya.
Walau tak berkomunikasi langsung, aku mendengar cerita dari ibu bahwa Adul semakin sukses dalam aktifitasnya. Bahkan ibu terlihat bangga karena Adul tak pernah pulang dengan tangan kosong bila ikut perlombaan band. Panggilan-panggilan ngeband di café-café juga berdatangan. Reaksi bapak, NO COMMENT! Yang penting….nggak ninggalin shalat! Begitu juga dengan tanggapan dua tetehku, Teh Nia dan Teh Sari. Mereka cuek. Malah dengan santainya Teh Nia bilang,” Biarin aja Mit..Kamu jangan ekstrim gitu dong. Dul berbakat dan harus disalurkan. Lagian dia nggak minta uang dari kamu ini “
“Tapi Teh…, kalo untuk dia sendiri sih nggak masalah, tapi untuk konser atau lomba ngeband atau apa kek itu kan memfasilitasi untuk hal-hal buruk, melenakan kita untuk beribadah kepada Allah. “
“Mita…biarin aja entar dia terkekang lho!” timpal Teh Sari.
“Lagian Mit..Ibu juga seneng kok anak Ibu ada suka nyanyi dan jago ngegitar, kali aja kalo gitu ada prosedur, eh, produser rekaman kaset yang tertarik ama dia, terus ditawarin bikin album. Kan nggak usah ikut acara-acara model AFI, Indonesian Idol, atau Popstar, dia bisa jadi artis. Kan kita juga yang seneng Mit…Ibu punya anak yang masuk tivi, pasti tetangga-tetangga yang laen iri.”
“Ah Ibu sama aja kayak Teh Nia dan Teh Sari, melihat sesuatu dari aspek manfaat aja. Apa iya dengan terkenal bahagia? Nggak kok! Manusia akan bahagia kalo diridhoi Allah. Bukan popularitas!”
“Ya..kalo mau seneng di dunia jangan bawa-bawa nama agama Mit..kita kan belon bener kayak kamu. Entar juga kalo Adul bosen, dia berenti sendiri,” jawab Teh sari. bukannya memberi solusi, malah menambah runyam masalah.
Aku hanya diam. Sekuler banget. Memisahkan agama dari kehidupan. Daripada amarahku naik, karena masalah Si Ganteng, aku pergi ke kamar ninggalin mereka. Ya Allah…kuatkanlah aku….
****
Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa libur semester telah menyapa. Hm…liburan euy! Back to home, perbaikan gizi, birrul walidain, dan yang pasti berda’wah ke keluarga. Dengan bermodal semangat empat puluh lima, aku berangkat menuju Sukabumi.
Alhamdulillah sudah sampai rumah. Kok sepi yah? Salamku bahkan tak ada yang menjawab. Kemana orang-orang? Kok sepi banget mirip di kuburan..? Hiyyy.
Pintu rumah tak dikunci. Ternyata ada ibu di belakang rumah. Raut mukanya sedih. What’s wrong? Ada apa? Kunaon?
“Assalamu’alaikum Bu…kunaon Bu? Kok di rumah sepi?” tanyaku seraya meraih tangannya lalu menciumnya dengan ta’zim.
Ibu menjawab salamku, lalu terdiam kembali.
“Dul..Mit….” ujar beliau seraya terpatah-patah.
“Kunaoan Si Ganteng? Si Kasep? “ tanyaku was-was. Teringat berita–berita di tabloid tentang maraknya aksi bunuh diri remaja. Tapi masa Si Gantengku nekad begitu? Masa Si Keras Kepala itu menjadi orang yang cengeng? Norak banget!
“Dul ngunci diri di kamarnya. Udah dua hari Mit. “
“Mo bertelor kali Bu…eh becanda maksudnya. Ibu tau kenapa?”
“Nggak…Dul nggak mau ngomong ama siapa-siapa. Coba kamu ajak ngomong. Siapa tau dia mau ngomong.” Jawab Ibu seperti menaruh harapan yang besar padaku.
“Iya deh Bu..”
“Eh istirahat dulu Mit..”
“Sekarang aja deh Bu..masalah ummat, eh, Si Ganteng lebih penting daripada masalah Mita. Do’akan anakmu dalam berjuang ..,” ucapku layaknya syahidah yang akan jihad. Ciee..
Dengan perlahan ku hampiri kamar Adul. Ku ketuk pintu kamar. Tak ada reaksi. Makin takut aku. Ku ketuk lagi, tapi kali ini ku sebut namanya.
Kusebut basmallah. Ku coba mengetuknya lagi.
“Dul…buka dooong! Masih idup kan? Duuuul ini Mita. Ayo kalo punya masalah cerita. Jangan siksa diri kamu sendiri. Laperkan dua hari nggak makan? Mo makan? Eh Duuul….. Bukaaaa…..!” ujarku dengan suara high level.
****
“Dul, kamu kenapa?” tanyaku memulai pembicaraan.
Adul masih diam. Ia tertunduk lesu. Ku hampiri ia, ku belai rambutnya.
“Ayo cerita..pasti…masalahnya ama…gitar..kenapa? bosen? Kan sayang gitarnya dipatahin. Mahal lho!”
Adul tetap diam. Tapi ku lihat ada genangan air mata di pelupuk matanya. Si Gantengku menangis? Wah harus direkam nih. Adul kan nangisnya setahun sekali. Kalau lebaran. Bukan nangis karena dosa tapi karena pengen jatah baju lebaran ditambah.
“Dul kenapa?”
Dul langsung memelukku. Biasanya ia paling sebel kalo dipeluk. Malu udah gede katanya.
“Ayo cerita Dul! ..” desakku.
Adul melepaskan pelukkannya. Lalu setelah ia mengusap airmatanya. Ia memulai bercerita.
“Gini Teh…temen deket Adul ada yang …me…meninggal..”
“Innalilahi wa innailaihi roji’un. Siapa Dul?”
“Taufik. Opik teh…”
“Ya Allah…” ujarku spontan. Aku kenal Opik. Cs berat Adul. Satu band musik pula. Pantas ia begitu tertekan.
“Kenapa Dul? Sakit? Kecelakaan atau…?” berondong pertanyaan ku lemparkan padanya.
“O..O…..OD” jawabnya terpatah-patah.
“Astaghfirullah..dia ngobat..? Dul…Dul..kamu ..kamu …gak kan? Ayo jawab!” tanyaku seraya mengguncang-guncang bahunya.
Ia mengangguk.
“Dul udah ngasih tau dia. Tapi dia masih tetep ama pil-pil laknat itu. Bahkan dia ngajak Adul untuk make. Tapi Adul inget Allah, ibu, bapak, teteh-teteh terutama Teh Mita. Adul nolak ajakannya. Ia marah Teh. Nggak solider, katanya. Ia pake itu untuk nambah semangat kalo manggung katanya Teh. Terus puncaknya ….”
“Kapan Dul?” tanyaku setengah memaksa.
“Dua hari lalu. Ketika tampil di acara lomba festival band. Opik yang lagi ngedrum tiba-tiba jatuh dari duduknya. Kita semua kaget. Apalagi panitia. Ketika dibawa ke Rumah Sakit Syamsudin, di jalan dia kejang-kejang, terus dari mulutnya keluar buih putih. Banyak banget,Teh. Sampe di UGD, Opik…Opik… nggak ketolong lagi,” ucapnya setengah histeris. Ku usap punggungnya. Kejadian ini pasti terasa berat.
“Opik..Opik..meninggal …kejadiannya di depan mata Adul. Dokter bilang sebelom tampil ia pake Lexotan dulu dalam dosis yang sangat banyak. Adul tau Teh, pasti Opik kambuh lagi demam panggungnya. Dia kan grogian. Soalnya event ini keren banget. Perlombaan band paling bergengsi di kota ini. Pasti dia mati-matian untuk tampil sukses. Tapi…berakhir begini…”
Aku menarik nafas panjang.
“Teh …maafin Adul..”
“Kok ke Teteh? ..” tanyaku heran.
“Teteh udah ingetin Adul untuk nggak ngeband. Tapi Adul bandel. Karena Adul bodoh, egois…jadinya gini deh. Setelah kejadian itu Adul jadi benci sama diri Adul sendiri. Nggak berguna. Hanya karena ngeband, semuanya hancur. Makanya gitar hadiah ulang tahun dari bapak, Adul patahin. Percuma Teh …..” ujarnya dengan kepala tertunduk lesu.
****
Gedung Graha Widya Wisuda IPB ramai oleh pengunjung. Aku yang ikut dalam kegiatan rohis kampus ikut memeriahkan penyambutan angkatan baru ini. Teriknya mentari jam dua belas siang menyengat kulitku. Untung aku punya pelindung yaitu khimar dan jilbab yang menutupi tubuhku. Coba kalau tidak. Sudah dapat dosa dari Allah, kena pancaran sinar ultraviolet yang dapat membuat kulitku terkena kanker kulit lagi. Masya Allah.
Mana yah orang yang aku cari itu? Setelah aku mencari-cari, aku melihat seseorang memasuki stand rohis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di bagian ikhwannya. Senyumku mengembang. Orang yang aku cari yaitu tak lain dan tak bukan Si Gantengku, Adul. Ia ada di sana.
Alhamdulillah, setelah kejadian meninggalnya Opik, Adul berubah seratus delapan puluh derajat. Ibadahnya ditingkatkan lagi. Band langsung ditinggalkan walaupun sempat kena sidang oleh Teh Sari, Teh Nia dan ibu. Kalau bapak, tidak ikut-ikutan. Dan seperti biasanya, NO COMENT. Ujarnya, Si Gantengku sudah dewasa. Dia berhak memilih jalannya sendiri.
Dan saat memasuki kelas tiga, ia mempunyai visi dan misi yang berubah. Ingin kuliah untuk mencari ilmu yang bermanfaat dan untuk lebih mengenal Islam, ia pun banting stir dari cita-citanya yang semula dari ingin memperdalam seni bandnya menjadi pemelihara kebudayaan laut di IPB. Subhanallah. Dipilihnya IPB supaya ia dekat denganku walaupun kami berbeda fakultas. Aku di Fakultas Pertanian. Tapi kembali lagi pada niatnya, ia ingin berubah dan Alhamdulillah niatnya terkabul. Ia lolos Ujian Saringan Masuk IPB sehingga tidak perlu mengikuti SPMB lagi.
“Daaar..Assalamu’alaikum Teh Mita…”Seseorang mengagetkanku dari lamunan. Dan ia pun menyodorkan sebelah tangannya.
“Wa’alaikumussalam. Adul..kamu ini ngagetin aja. Gimana, udah registrasi? “ tanyaku seraya menyodorkan tanganku dan ia menciumnya dengan ta’zim.
“Teteh mah ngelamun melulu. Tadi Adul udah bilang ke stand informasi, tapi Tetehnya nggak ada. Eh, taunya ada di depan stand Lembaga Studi Islam Faperta. Registrasi Adul nanti setelah istirahat. Eh tau nggak Teh, pas Adul keluar dari GWW, Adul kan pusing liat banyak orang eh taunya ada seseorang yang manggil Adul..”
“Siapa? Akhwat? Jangan-jangan…awas nih cari masalah lagi di sini…”
“Ikhwan kok Teh..lagian Adul kan udah sumpah nggak bakalan pacaran lagi. Dosa Teh. Eh…tadi kan ada..Kang…Teguh. Terus udah di stand, kita ngobrol-ngobrol. Teteh nggak cerita kalo Kang Teguh satu fakultas denganku.” Adul sedikit marah.
Aku terdiam. Ya…aku lupa! Mungkin ada baiknya kalau aku hubungi dia lagi untuk membimbing adikku. Tapi…malu ah!
“Dah jangan dipikirin. Eh Teh…ada tawaran menarik nih…” serunya tiba-tiba.
“Apaan? Tawaran kerja? Boleh dong mumpung libur nih..”
“Bukan! Tawarannya, mau nggak Teteh aku comblangin ama Kang Teguh? Dia manis kok. Ikhwan pula. Ok kan?’ ujarnya jenaka.
Aku melotot. Sopyaaaan, eh, sopan banget nih anak! Ku cubit badannya. Ia malah tertawa!
“Sorry Teh,sorry…Tapi..,mau kaaaaan?” ia pun berlari menghindari kejaran cubitan mautku.
Adul, Adul. Katanya mau berubah. Kok ’jayusnya’ masih dipelihara. Tapi dalam sudut hatiku yang paling dalam aku bersyukur kepada Allah, karena adikku telah berubah. Ia bukan hanya Si Ganteng saja tapi bertambah satu predikat lagi yaitu….Si Ikhwan! r
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar